Satuan Pengawas Internal
UIN Sulthan Thaha Saifuddin
Jambi

SATUAN PENGAWASAN INTERNAL SUKSESKAN GERAKAN MENANAM 1 JUTA POHON MATOA

Dalam rangka memperingati Hari Bumi dan mendukung pelestarian lingkungan, Satuan Pengawasan Internal (SPI) turut ambil bagian dalam gerakan menanam 1 juta pohon matoa di lingkungan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Program ini diinisiasi oleh Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI). Pelaksanaan penanaman pohon dilakukan secara serentak di beberapa titik strategis area kampus UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. SPI hadir sebagai bagian dari tim pelaksana dan pengawas kegiatan untuk memastikan proses berjalan efektif dan sesuai target.

 

Mengapa Harus Matoa?

Di antara hamparan pohon yang tumbuh subur di bumi Nusantara, mengapa justru pohon ini yang dipilih, yang diangkat, seolah mewakili sebuah harapan? Jawabannya tidak sekadar terletak pada manisnya rasa buah atau eksotisme bentuknya yang memikat mata. Lebih dari itu, Matoa menyimpan filosofi dan potensi besar dalam membangun masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Pohon Matoa (pometia pinnata) adalah tanaman asli Papua yang telah lama tumbuh dan berkembang dalam ekosistem tropis Indonesia Timur. Tingginya bisa mencapai 18 meter, dengan tajuk yang rindang dan akar yang kuat. Secara ekologis, matoa memiliki kemampuan istimewa: ia dapat menyerap karbon dioksida dalam jumlah besar, menghasilkan oksigen, mencegah erosi, dan memperbaiki kualitas tanah.

Matoa bukan hanya pohon, tapi simbol ketangguhan. Matoa dapat tumbuh hampir di seluruh wilayah Nusantara, dari tanah Aceh hingga Merauke. Kemampuannya bertahan dalam cuaca ekstrem menjadikannya metafora tentang harapan: bahwa kehidupan bisa bertunas bahkan di kondisi yang genting.

Di balik rimbun daunnya yang tenang dan ketangguhan ekologis, Matoa menyimpan denyut kehidupan yang lebih dari sekadar hijau. Ia bukan hanya penjaga harmoni alam, tetapi juga penjaga harapan manusia. Buahnya pun memiliki cita rasa yang tak lazim, seolah memadukan manisnya lengkeng dengan aroma menggoda durian, menyapa lidah dengan percaya diri. Ia membawa peluang, membuka jalan bagi tumbuhnya ekonomi lokal yang bersandar pada alam, bukan dengan perusakan. Sementara kayunya, kokoh namun ringan, siap diolah menjadi karya: dari konstruksi sederhana hingga kerajinan tangan yang menyimpan jejak budaya dan ketekunan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *